Rumput-rumput masih basah ketika saya, bersama sebentik kegundahan yang bergelayut di rongga dada, untuk kesekian kalinya kembali bertandang ke warung Mbak Ul, di perempatan jalan dekat lapangan yang cukup luas itu. “ Kopi, Mbak! “ mulut saya langsung mangap, begitu pantat ini merapat ke bangku panjang warung, yang barangkali karena sering diduduki permukaannya jadi mengkilap dan halus. Seperti tanpa komando dari otak besar, tangan saya yang kanan menggapai tumpukan bakwan perawan yang masih mengepulkan asap putih, sementara yang kiri meraup cabe hijau segar dalam jangkauan. Tanpa harus menunggu beberapa menit kemudian, mulut saya sudah mendesis-desis tak keruan, sementara lidah saya bergoyang tak alang kepalang, merasai elaborasi rasa panas, pedas dan gurih yang mengalirkan liur saya, deras. Sedap sekali. Kontan yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah air putih jernih yang segar membasuh langit-langit mulut dan tenggorokan.
Belum selesai dengan kunyahan-kunyahan bakwan tersebut, Mbak Ul dengan ringan mendatangi bangku saya dan meletakkan gelas berisi hampir setengah serbuk kopi bubuk tepat di hidung saya. “Kopi!” katanya, sambil berlalu kembali ke belakang mejanya seperti tanpa persoalan apapun. Saya hampir tersedak melihat hal itu, kalau saja saya tidak cukup paham dengan kebiasaan wanita yang gemar bercanda ini. Segera saya kembalikan gelas tersebut dan merayunya untuk berkenan menambahkan sesendok gula, lalu menyeduhnya dengan air mendidih. Rupanya pagi ini saya memang tidak salah memilih tempat. Jadi lupa saya dengan sedikit persoalan yang sampai pagi tadi masih menggelayutkan gundah di pikiran saya.
“Subali, kok belum datang, Mbak?” saya sedikit berbasa-basi sambil menyeruput kopi selir yang sedap itu.
“Tunggu barang dua menit lagi juga datang!” katanya kurang antusias.
Dan rasanya belum terkatup mulut Mbak Ul, yang kami bicarakan sudah Nampak batang lehernya. Berjalan dengan santainya dalam balutan kemeja kotak-kotak yang itu-itu saja semenjak kami pertama kali berkenalan, juga di warung ini, dua tahun silam, celananya cutbray yang telah dimodifikasi menjadi pencil. Orang yang saya tunggu itu adalah lelaki yang sangat santun, meskipun kadang sulit mengendalikan lidah kepelesetnya, wajahnya komedi, dan model rambutnya akan mengingatkan kita semua pada aktor India di tahun pertama milenium ini. Tapi lebih dari itu dia memiliki tingkat intelektualitas di atas rata-rata kami. Mengekor di belakangnya, Tahu dan Bolot yang masih kelihatan benar sisa-sisa kantuk di matanya. Dari jauh meraka melambaikan tangan, sembari tersenyum memamerkan mentega di sela-sela gigi kuningnya.
”Halo Bro,” Subali menabik, matanya lekat memandang cangkir kopi di mejaku, dan tanpa ba bi bu langsung menyeruputnya dalam-dalam. Lalu tangan-tangannya sigap meraih toples rokok eceran yang sedari tadi menggoda untuk dipungut. Sampoerna hijau, langsung melekat di bibir hitamnya. Sedetik kemudian asap telah mengepul di warung sederhana itu. Sementara Tahu dan Bolot langsung nyamperi meja Mbak Ul, memesan kopi plus gula dan air mendidih secukupnya. Rupanya mereka sudah hapal benar tabiat, dan gaya bercanda Mbak Ul.
* * *
Lama, kami berempat hanya tepekur dalam pikiran masing-masing, sambil sesekali bersiul-siul untuk gadis-gadis sekolahan yang tampak malu-malu dalam seragam sekolahnya. Tdak sampai dua ratus meter ke arah timur dari warung Mbak Ul memang ada SMA yang cukup besar. Siswa-siswinya barangkali ada ribuan. Bagi lajang-lajang kolotan seperti kami, menyaksikan lalu lalangnya siswi yang terlihat segar, mungkin karena baru habis mandi; rambutnya basah dan mukanya meruapkan aroma sabun juga parfumnya masih tercium tajam, barangkali bisa menjadi pemandangan pagi yang cukup menarik untuk mengawali hari yang penuh hiruk pikuk persoalan.
“Piye IPNU-ne, Hu” Subali membuka percakapan.
Yang ditanya sedikit gelagapan. Cangkir yang sudah menempel di bibirnya ditarohnya lagi di meja. Dahinya nampak berkerut-kerut, mencoba secepat kilat memproses pertanyaan yang mengejutkan tersebut, dan mencari simpul jawaban yang cukup sederhana untuk disampaikan pada Subali, yang terhitung masih seniornya dalam organisasi itu. Sementara Bolot cengar-cengir melihat temannya bingung. Saya paham benar apa yang sedang dialami Tahu saat itu. Sebagai seorang ketua IPNU yang baru terpilih, memang Tahu tidak boleh gegabah dalam melontar steatmen, meskipun itu kepada orang dalam, setelah dilantik beberapa malam yang lalu, dia memiliki semacam tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik organisasi.
“Apik, Li,”
“Lancar-lancar wae, Li” bolot menimpali.
Subali manggut-manggut, tapi ada semacam keraguan tersirat dari tatapan matanya yang penuh selidik. “Memang harus gitu. Kalo bukan kita-kita, para pemuda NU, yang menghidupi organisasi, lalu siapa lagi. Intinya jangan mengandalkan orang lain di luar kita.”
“Terus, katanya ada gangguan kecil waktu pelantikan itu, gimana? Beres?”
“wah, hare gini. Memangnya selama ini sampean kemana saja sih, kok baru nannya soal itu. Sudah beres semuanya,” sela Bolot berbangga, sembari menyibak rambut kribo nidjinya ke belakang. Saya selalu salut pada sikap optimisme Bolot yang meluap-luap. Rasa-rasanya tak ada masalah yang bisa membuat pemuda ini menyimpan giginya; bermuramdurja.
“kita semua mengakui, bahwa gangguan tersebut memang kesalahan kita sendiri, Li. Kesalahan kolektif yang menuntut perbaikan kolektif juga. Dan, untunglah teman-teman kita bukanlah orang-orang yang terlalu bebal untuk diajak berintrospeksi; mereka bervisi ke depan dan pantang melihat ke belakang, kecuali dari kaca sepion saat berkendara di jalan jombang. Karena itu penting, Li, biar tidak terjadi kecelakaan.”
“Baguslah, kalo begitu. Tapi, bagaimana dengan imbas sosio-kulturalnya? Sebab aku yakin seribu persen kalo masalah yang sesungguhnya justru muncul dari orang-orang yang secara tidak langsung memiliki keterikatan emosional dengan organisasi. Tokoh masyarakat, misalnya. Atau malah masyarakat itu sendiri?” tambah Subali, terus mengejar.
“Hal itu juga sudah kami pikirkan mateng-mateng, Li. Itu sebabnya tadi aku bersyukur, karena teman-teman kita bukan orang-orang yang terlampau egosentris, untuk mempertahankan sikap jumawanya, dan mengabaikan kemaslahatan bersama. Gangguan insidental itu sepontan telah menyadarkan kami untuk segera bertindak.
“ Karena, meski hal itu bukan sebuah kesengajaan, namun secara tidak langsung kami telah melukai perasaan masyarakat. Dan, kami melihat, tidak ada cara lain kecuali menebus luka itu dengan mengakuinya sebagai kesalahan kolektif kami dan sebuah permintaan maaf yang tulus, seraya berjanji untuk dengan sekuat tenaga menjaganya agar tidak terualang kembali di masa mendatang.
“itu adalah upaya final kami dalam tataran ihtiyari. Setelah itu semuanya kami serahkan pada kebijaksanaan mereka. Namun, saya yakin bapak-bapak kita bukanlah orang-orang intoleransi alias kolot, yang melihat segala hal dengan kaca mata hitam putih. Saya yakin mereka cukup arif untuk bisa memisahkan tinja dari sarung, dan tidak menyingkirkan keduanya sekaligus“ Ujar Tahu, panjang lebar
“Dan, sampean sendiri dimana waktu itu, sampai-sampai ketinggalan informasi?” Sekarang ganti Bolot yang menyerang Subali.
“Aku... eh Aku di Surabaya. Nyari kerjaan.” Subali mulai kelihatan kikuk.
“Wah, rugi besar, sampean ndak ikut acara pelantikan itu,” kata saya.
“ Sayang banget Sampean ketinggalan melihat aksi cewek2 bohai malem itu,” Bolot menimpali.
“Mangkanya, sampean sudah tua tapi ndak laku-laku, Li” Mbak Ul tiba-tiba nyeletuk dari belakang mejanya.
Sontak kami berempat tertawa bersama-sama. Saking keasikan ngobrol sampai tak terasa suasana di sekitar telah cukup lengang. Tak tampak lagi siswa siswi yang berlalu lalang. Bel sekolahan telah meraung-raung sejak tadi. Saya sempat melirik jam yang tertempel di belandar tepat di atas meja Mbak Ul. Saya rasa inilah waktu yang tepat untuk mengakhiri obrolan ini. Dan kami pun pulang ke rumah masing-masing, tentu dengan sebuah azam untuk kembali lagi nanti sore atau esok pagi ke tempat ini. Di warung Mbak Ul yang bersahaja ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar