Hujan rimis yang diguyurkan sejak sore boleh jadi merupakan rahmat yang mengasyikan buat banyak pasutri yang hendak berlama-lama melunaskan apa yang mengendap di balik selimut. Gairah yang mengkristal sejak pagi. Namun suasana yang sama agaknya terasa berbeda bagi ratusan santri di Pesantren Nurudzolam. Gubuk-gubuk reot berjajar nyaris kumuh, menampung ratusan anak muda dari keluarga berada. Hampir di setiap gubuk, air mengucur deras dari celah atap yang tak kuasa menahan derasnya arus masa. Tak ada kasur, apalagi selimut tebal berlapis hangat. Saat hujan datang, hampir tak ada kenyamanan yang bisa ditawarkan pondokan sederhana di tengah areal persawahan tersebut. Rinai dan tembias hujan, sebagaimana puisi ‘hujan bulan juli’, adalah keindahan yang menyiksa mereka, perlahan.
Musim penghujan yang datang tidak pada waktunya, adalah cobaan tak tertanggungkan bagi orang-orang seperti Mas Lurah. Dalam keadaan biasa, Mas Lurah pasti sudah bangun. Mengambil handuk kumalnya lalu bergegas ke dapur. Menyeduh apa saja yang bisa ia temukan di almari dapur. Bisa kopi, teh, jahe kadang-kadang kunyit atau laos. Tapi lebih sering air putih saja. Lalu membangunkan santri-santri lain sebelum fajar shodiq datang berkunjung. Sebagai seorang lurah pondok, dia memiliki tugas tak tertulis meningkatkan kondisi spiritual anak-anak muda yang penuh gairah itu.
Tapi pagi ini, bahkan ketika azan subuh telah diteriakkan dari mushalla pondok, dia masih tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Semakin khidmat menjejak sarung bututnya. Tadi, matanya baru benar-benar terpejam sesaat sebelum adzan dini hari mengalun lamat-lamat dari desa sebelah. Sepanjang sore dia harus memperbaiki atap-atap pondokan santri yang bocor karena angin kencang dan hujan deras yang tiba-tiba mendera kemaren malam.
Mas Lurah baru terjaga ketika langit sudah terang benderang. Telinganya terusik oleh gemuruh dari mushala. Salah satu kebiasaan santri-santri di pesantren Nurudzolam adalah membaca surat kahfi tiga kali menjelang terbit matahari. “Mati aku!' gumamnya. Tergirap bangkit dari pembaringanya yang bau apak.
Mas Lurah berlari mengendap-endap menuju kulah yang berada tepat di samping mushalla. Mencoba tak acuh pada santri-santri yang menatap heran padanya. Dia harus berlomba dengan matahari yang sudah tak sabar menampakkan muka. Teringat akan sebuah kisah luar biasa dalam kitab yang pernah diabaca oleh kiainya di kampung. Tentang Sayidina Ali, semoga Allah memuliakan wajahnya, yang hampir kehilangan waktu shubuhnya karena tidak mau berjalan mendahului orang tua yang belakangan ternyata beragama majusi. Maka Jibril diperintahkan menjejak matahari dengan tungkai kakinya. Menahanya barang sebentar sampai beliau menuntaskan shalat subuhnya dalam keadaan ada'.
Mas Lurah berharap hal yang sama terjadi padanya saat itu. Namun harapan hanya tinggal harapan bagi Mas Lurah yang Kiai bukan, wali pun apalagi.
Kejadian serupa bukan kali ini dialami Mas Lurah. Pagi ini adalah yang ke lima kalinya. Dan, sudah tiga hari berturut-turut. Bukan masalah besar seandainya dia santri biasa. Paling-paling hanya kena ta'zir. Tapi dia adalah lurah pondok. Orang pertama setelah Kiai, kelurga ndalem dan ustadz sepuh yang seharusnya menjadi tuntunan bukannya jadi tontonan. Lebih dari itu, di mata Kiai, Mas Lurah layaknya cermin yang memantulkan gambaran wajah santri-santri secara umum. Jika lurahnya saja kelakuannya sedemikian itu bagaiman dengan santri-santri lainya. Pikiran-pikiran semacam itulah yang membuatnya lunglai tak bersemangat pagi ini.
“Terus terang saya sangat malu, kang,” katanya, kepada Kang Kasan, teman satu gubuk yang kerap ia jadikan pendengar setia.
Yang diajak bicara hanya cengar-cengir sambil nyeruput air panas.
“Bukan sekali saya dengar selentingan pedas dan rasan-rasan dari pengurus asramah,” lanjutnya. “Saya jadi malu dan gak enak ati kalau ketemu mereka. Lebih-lebih pada Kiai.” Giliran Mas Lurah yang menyeruput. Mencoba mematut-matutkan lidahnya dengan air panas yang mereka bayangkan sebagai kopi.
“Yang jelas sampean harus sukur masih dikaruniai rasa malu. Banyak lho orang-orang di luar sana yang tidak punya.” Kata Kang Kasan sambil bangkit menuju pojokan dapur. Hendak memeriksa cangkul-cangkul yang akan mereka gunakan berkebun. Karena tidak ikut mengajar di madrasah, Mas Lurah dan Kang Kasan mengisi waktu senggang setelah ngaji subuh dengan menggarap kebun milik Kiai. Itung-itung hidmah pada keluarga ndalem. Untuk makan sehari-hari, praktis, mereka numpang pada Kiai.
“Apa sebaiknya saya sowan saja, ya? Saya pikir tidak mungkin beliau tidak tau kelakuan saya akhir-akhir ini.” bahkan sambil jalan, Mas Lurah masih memaksa Kang Kasan, yang jelas-jelas tak punya solusi, untuk mendengar keluh kesahnya. “Barangkali beliau akan mempertimbangkan untuk menyerahkan jabatan lurah pada orang lain. Yang lebih pantes dan berhak.”
Kang Kasan, untuk kesekian kalinya, harus mengangkat bahunya pagi itu.
* * *
Lurah pondok itu sendiri adalah jabatan yang bukan main-main. Ditunjuk langsung oleh keluarga ndalem atas pertimbangan Kiai. Sehingga tentu saja pemangkunya bukanlah orang sembarangan. Tapi agaknya Mas Lurah masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bukan santri biasa.
“Saya sebenarnya kurang pantes memangku amanat sebesar ini,” katanya, saat memberi sambutan sesaat setelah dibaiat. “Ilmu kitab saya masih sangat rendah, pemahaman saya terhadap persoalan agama masih teramat cetek dibandingkan santri-santri lain. Modal saya cuma nawaitu dan lillahi ta’ala saja.” Lanjutnya, yang justru disambut tepuk tangan riuh oleh santri-santri.
Di hadapan keluarga ndalem, dia membawa seribu satu alasan agar menggugurkan dirinya sebagai lurah. Dia merasa masih banyak santri senior lain yang lebih berhak atas jabatan itu. “Saya buta organisasi dan tidak terlalu dekat dengan Kiai,” katanya. Tentu dia tidak bilang akan diambil mantu oleh seorang moden dari kampung sebelah. Tapi semua alasan itu dapat dimentahkan oleh Gus Rur. Salah satu menantu Kiai yang dikenal piawai ilmu mantiq. “Anggap saja ini sebagai latihan. Biar sedikit membuka mata Antum tentang organisasi. Juga buat bekal di masyarakat nanti. Dan, jangan bilang kalau Antum tidak mau dikenal lebih dekat oleh Kiai,” kata Gus Rur. Mas Lurah tak berani menjawab lagi.
Dari pertama, Mas Lurah sudah menyadari, bahwa lurah pondok adalah jabatan kering terberat di dunia. Bagaimana tidak, lurah bertanggung jawab atas kehidupan santri lahir batin. Jiwa dan raga. Ilmu dan ahlak. Lurah harusnya adalah orang yang tahu betul keadaan santri-santri. Paling tidak tahu asal-usul, orang tua, adat istiadat, hobi, psikologi dan, kalau punya, riwayat penyakit mereka.
Jadi lurah itu semata-mata bukan jabatan yang bisa dibuat gagah-gagahan. Ya, meskipun akhir-akhir ini dia mulai menikmati sebutan mas yang tiba-tiba ditujukan padanya. Terdengar seperti gelar mas yang berlaku di lingkungan ndresmo bagi keturunan Syeikh Ali Asghor. Lebih dari itu entah mengapa dia tidak pernah bisa menikmati pekerjaan rutinya: Membangunkan santri santri pada dini hari ketika orang orang tengah berada di puncak nyenyak, mengurus sanitasi, membuat irigasi hingga menyelesaikan konflik antar lembaga. Belum lagi jika ada santri diusir gara-gara pelanggaran berat. Sudah pasti dia orang pertama yang menjadi sasaran duko Kiai. Presiden bisa santai, tapi lurah pondok tidak.
Dia merasa tugas-tugas itu tak pernah ada habisnya. Ditambah akhir-akhir ini, Mas Lurah benar-benar kehilangan akal untuk mengatasi penyakit susah tidur yang mulai mengganggu kinerjanya.
* * *
“Kang. Sekarang saya benar yakin kalau Kiai sedang duko.” kata Mas Lurah kepada Kang Kasan dan Kang Mail yang tengah sibuk nambal kitab dalam gubuk mereka. Dia seperti nggedumel sendiri, karena kedua temanya sama sekali tidak memperhatikan. “Tadi, ketika sowan, bahkan, beliau tidak berkenan saya cium tangannya.'
Entah karena waskita atau apa, yang jelas sudah umum di kalangan santri bahwa Kiai selalu memberi sambutan yang berbeda terhadap setiap tamu yang sowan, berdasarkan kondisi spiritual masing-masing. Terkadang beliau membiarkan tamu berlamalama mencecap punggung tangannya. Kadang malah tidak berkenan menemui. Semua santri, termasuk Mas Lurah, meyakini ada rahasia di balik semua itu.
“Jangan mikir yang aneh-aneh. mungkin beliau sedang gerah,” tutur Kang Mail, akhirnya terpancing berkomentar.
“Atau sampean yang terlalu gede rasa, Mas. Bisa jadi beliau sedang berkonsentrasi pada masalah lain. Toh, Kiai kita kan sudah menjadi rujukan keluhkesah masyarakat. Jadi wajar kalau perhatian beliau terbagi.” kata Kang Kasan. Tanpa mengalihkan tatapannya dari kitab.
Meskipun Mas Lurah merasa ucapan kedua temannya cukup masuk akal, namun di balik dinding tebal hatinya, dia mengakui bahwa beberapa hari ini keadaan spiritualnya memang sedang jongkok. Jangankan tahajud, masih kebagian subuh saja untung-untungan, shalat dluha ogah-ogahan dan selalu melamun saat wiridan. Suasana batinnya memang sedang kacau balau.
“Sebaiknya memang sampean matur langsung pada beliau, Mas.” Saran Kang Mail
“Tadi, setelah menyerahkan grafik perkembangan santri mingguan, saya utarakan semua masalah saya, juga keinginan untuk mundur dari jabatan lurah. Karena jika diterus-teruskan saya ndak kuat menanggung malu. “
“Terus, Beliau bilang apa?”
Mas Lurah mengangkat pundaknya. “Beliau mendel saja. Malah besok sore saya diminta menyetorkan hasil kebun.”
“Oh, ya?” Sekarang, Kang Kasan yang jadi belingsatan. Bulan ini dia memang sengaja mengulur-ulur laporan, karena menurutnya hasil kebun kurang bagus. Bahkan, bisa jadi gagal. Dia salah perhitungan. Meski tanpa pengangkatan resmi, bisa dibilang Kang Kasan adalah Kepala Bagian Pengurus Kebun milik Kiai. Sejak selesai sekolah, dia sudah menjadi orang kepercayaan Kiai. Terutama dalam hal urus-mengurus kebun. Tapi Dia hanya perlu melaporkan pekerjaannya pada Mas Lurah yang kemudian akan meneruskannya pada Kiai.
* * *
"Mas, apa sampean tidak merasa kalo akhir-akhir ini jatah makan kita dikurangi?" kata Kang Kasan waktu rehat di kebun, keesokan paginya.
"Oh ya?" jawab Mas Lurah kurang antusias.
"Seminggu yang lalu, sebelum sampean menyetorkan laporan bulanan, saya hitung tempe di piring saya paling tidak ada lima. Bahkan pernah sepuluh. Tadi pagi cuma tiga. Kemaren malah tidak ada. Cuma kuah dan sambel saja. Apa menurut sampean Kiai kecewa dengan kinerja kita?"
"Bisa jadi. Lha wong kenyataanya hasil kebun kita tidak bagus. Saya saja kecewa. Apalagi beliau yang punya kebun."
"Waduh. Kalo begitu gawat, Mas. Bulan ini malah kelihatannya makin parah. Bisa-bisa jatah nasi kita diganti aking."
"Memangnya kenapa kalo makan nasi aking? Saya sih yang penting kenyang. Bisa menyambung hidup."
"Bisa kena gizi buruk saya. Dalam keadaan normal saja otak saya sudah bebal apalagi penyakitan. Mending saya pulang. Kerja sungguhan di rumah."
"Saya malah ndak mikir sampe ke sana. Persoalan bangun kesiangan tempo hari saja, saya pikir, masih belum selesai.
"Untuk saat ini saya tidak siap menghadap Kiai, sebelum keadaan spiritual saya pulih seperti sedia kala."
Tapi sampai kapan?
"Entahlah."
Banyak hal yang membuat Mas Lurah semakin yakin bahwa Kiai memang sedang duko padanya. Hampir dua minggu, dia tidak lagi ditimbali Kiai. Kemarin saja Kiai mengutus Gus Rur mengambil grafik perkembangan santri dari tangannya. Padahal biasanya Kiai tidak pernah berlaku semacam itu.
Mas Lurah semakin risau, ketika beberapa kali dia mencoba sowan, namun tidak pernah ditemui oleh Kiai. Sementara ibadahnya juga semakin kacau. Dia tidak lagi mengerjakan dluha. Selalu di barisan belakang saat shalat jamaah, dan langsung bangkit sesaat setelah salam. Dia menjadi kerap terlihat termenung, dan suka berlama-lama di kakus. Mas Lurah benar-benar sudah menjadi orang lain. Hal itu ternyata juga mengambil pengaruh terhadap kinerjanya di kebun.
Benar saja, sebagaimana prediksi Kang Kasan, hasil kebun bulan ini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Terong dan tomat seperti mandul, karena cuaca yang kurang mendukung. Kalau ada satu dua terong yang kebetulan bisa berbuah, itu pun tak sempurna. Sehingga tidak layak konsumsi. Apalagi untuk dihaturkan kepada Kiai.
"Nampaknya kita benar-benar akan makan nasi aking, Mas," kata Kang Kasan. Dia memang tidak sedang berkelakar. Sudah seminggu ini jatah makan mereka di ndalem dikurangi separuh. Dengan sayur asem tanpa lauk. Hanya sambal trasi yang terasa hambar. Kurang cabai.
"Kita memang salah perhitungan. Seharusnya dulu kita tanam kangkung dan bayam saja. Lebih kecil risikonya. Bukan apa-apa. Saya hanya khawatir beliau kurang ridho."
"Sejak awal seharusnya kita lebih peka. Padahal kita sudah beberapa kali diperingatkan oleh orang-orang desa. Tapi sekarang toh semuanya percuma saja. Lebih baik kita siap-siap menerima duko. Dan, kalau saya mungkin minggu depan akan pulang." Kang Kasan semakin lunglai.
"Barangkali, sampean memang benar, kang. Kalau sekedar duko, kapanpun saya siap. Karena memang saya pantas menerimanya. Tapi seandainya beliau kurang atau bahkan tidak ridho, betapa malangnya nasib kita Kang.
"Kalau memang kepulangan kita bisa membuat beliau ridho. Tak perlu menunggu minggu depan, sekarang pun akan saya akan berkemas."
* * *
Demikianlah, sore itu mereka berjalan gontai ke ndalem belakang. Berbagai macam pikiran dan spekulasi berkecamuk dalam benak Mas Lurah. Sementara Kang Kasan masih berharap cemas. Pikiranya dipenuhi oleh bayangan nasi aking. Mendadak rasa langu menendang mulutnya. Dia menelan ludah beberapa kali.
Tapi begitu membuka pintu dapur, mereka dibuat tercengan beberapa detik oleh pemandangan yang benar-benar berbeda dari apa yang ada dalam pikiran mereka. Di atas meja, tempat biasanya mereka menikmati sepiring tak penuh nasi tanpa lauk itu, kini telah tersaji berbagaimacam hidangan yang meluapkan air liur. Hampir tak berkedip, Mas Lurah dan Kang Kasan memandangi meja dari sudut ke sudut; ada sambel terong, dadar, telur asin, martabak, ayam goreng, ayam bakar, kare ayam, bandeng presto, bandeng kuah asam, otak-otak bandeng dan aneka hidangan laut yang baru kali itu mereka lihat.
"Ndak ada nasi akingnya, Mas," kata Kang Kasan.
Mas Lurah menggeleng tak acuh.
"Heh, Kang. Jangan diliatin kayak gitu!" tegur seorang wanita. Di tangannya menjinjing sebakul nasi yang masih mengepulkan asap putih. Meruapkan aroma pandan yang menggiurkan. "Nanti ilernya jatuh."
"Beneran nih Mbak Tin. Semuanya?" kata Kang Kasan. Mbak Tin adalah khadam bagian juru masak kepercayaan ndalem. Wanita itu yang membuat Gus Ihsan, putra sulung Neng Imah (Istrinya Gus Rur), betul-betul tak mau makan bila tidak dari masakannya. "Padahal kemarin-kemarin cuma nasi. Habis ada tamu besar, ya?"
"Memangnya kalian ndak tahu, kalo hari ini keluarga ndalem sedang mengadakan syukuran.”.
“Syukuran?”
Sebentar kemudian, satu demi satu khadam, mulai dari pengurus tambak, sawah sampai warung, datang bermunculan. Tak satu pun wajah mereka menampakkan kaget. Rupanya hanya Mas Lurah dan Kang Kasan saja yang ketinggalan informasi. Sebulan ini Kiai dan keluarga ndalem rupanya tengah melakukan semacam ritual. Yakni poso muteh sebulan penuh yang dimulai setiap jum’at kedua bulan Shofar. Barangkali semacam lelaku turun-temurun yang entah untuk apa. Wallohu a’lam. Karena saya dan santri-santri lain tidak pernah dilibatkan dalam ritual tersebut. Bahkan, seandainya Mas Lurah tidak pernah cerita, pastinya saya tidak mungkin menulisnya dalam kisah ini.
“Jadi kalo sampean berdua kebetulan ketemu sambel terasi, itu karena saya kasihan saja,” lanjut Mbak Tin. Seolah ingin menjawab keheranan mereka belakangan ini.
Sore itu Mas Lurah dan Kang Kasan kembali ke gubuk mereka dengan perut penuh berjejal. Setelah malam itu solah-olah, mereka tidak perlu makan lagi sampai tiga hari ke depan.
"Bagaimana, Kang. Minggu depan jadi pulang?" Kata Mas Lurah lalu bersendawa panjang.
"Justru saya sedang berpikir untuk membiasakan makan nasi aking. Sampean?"
"Entahlah. Yang jelas, sekarang, saya ngantuk sekali."
Catatan Mas Lurah:
Wah tadi pagi saya masih juga bangun kesiangan. Rasanya saya perlu mengonsultasikan masalah ini pada orang pintar, (Juara MQK tingkat nasional, misalnya). Saya mengikuti pengajian Tapi setidaknya, saat pengajian subuh tadi pagi, saya mendapat sedikit kejelasan atas beberapa tanda tanya yang mengganggu tidur saya belakangan ini.
Entah dari mana juntrungnya (saya agak ngantuk), sebelum mengakhiri pengajiannya, tiba-tiba Kiai menyitir kalam hikmah Ibnu Atho'illah as-Sakandari yang terkenal itu. Padahal Kiai sedang membaca kitab Fathul Wahab. Sebenarnya saya dan, barangkali, santri-santri pada umumnya, sudah tahu dan hapal luar kepala. Min alamatil i'timad alal amal, nuqshonur roja' inda wujudi zalal. (Termasuk tanda-tanda orang yang menggantungkan diri pada amal perbuatannya, adalah berkurangnya harapan (raja’) ketika terjadi kesalahan)
Selasa, 16 Maret 2010
Kamis, 11 Maret 2010
cangkruan
Rumput-rumput masih basah ketika saya, bersama sebentik kegundahan yang bergelayut di rongga dada, untuk kesekian kalinya kembali bertandang ke warung Mbak Ul, di perempatan jalan dekat lapangan yang cukup luas itu. “ Kopi, Mbak! “ mulut saya langsung mangap, begitu pantat ini merapat ke bangku panjang warung, yang barangkali karena sering diduduki permukaannya jadi mengkilap dan halus. Seperti tanpa komando dari otak besar, tangan saya yang kanan menggapai tumpukan bakwan perawan yang masih mengepulkan asap putih, sementara yang kiri meraup cabe hijau segar dalam jangkauan. Tanpa harus menunggu beberapa menit kemudian, mulut saya sudah mendesis-desis tak keruan, sementara lidah saya bergoyang tak alang kepalang, merasai elaborasi rasa panas, pedas dan gurih yang mengalirkan liur saya, deras. Sedap sekali. Kontan yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah air putih jernih yang segar membasuh langit-langit mulut dan tenggorokan.
Belum selesai dengan kunyahan-kunyahan bakwan tersebut, Mbak Ul dengan ringan mendatangi bangku saya dan meletakkan gelas berisi hampir setengah serbuk kopi bubuk tepat di hidung saya. “Kopi!” katanya, sambil berlalu kembali ke belakang mejanya seperti tanpa persoalan apapun. Saya hampir tersedak melihat hal itu, kalau saja saya tidak cukup paham dengan kebiasaan wanita yang gemar bercanda ini. Segera saya kembalikan gelas tersebut dan merayunya untuk berkenan menambahkan sesendok gula, lalu menyeduhnya dengan air mendidih. Rupanya pagi ini saya memang tidak salah memilih tempat. Jadi lupa saya dengan sedikit persoalan yang sampai pagi tadi masih menggelayutkan gundah di pikiran saya.
“Subali, kok belum datang, Mbak?” saya sedikit berbasa-basi sambil menyeruput kopi selir yang sedap itu.
“Tunggu barang dua menit lagi juga datang!” katanya kurang antusias.
Dan rasanya belum terkatup mulut Mbak Ul, yang kami bicarakan sudah Nampak batang lehernya. Berjalan dengan santainya dalam balutan kemeja kotak-kotak yang itu-itu saja semenjak kami pertama kali berkenalan, juga di warung ini, dua tahun silam, celananya cutbray yang telah dimodifikasi menjadi pencil. Orang yang saya tunggu itu adalah lelaki yang sangat santun, meskipun kadang sulit mengendalikan lidah kepelesetnya, wajahnya komedi, dan model rambutnya akan mengingatkan kita semua pada aktor India di tahun pertama milenium ini. Tapi lebih dari itu dia memiliki tingkat intelektualitas di atas rata-rata kami. Mengekor di belakangnya, Tahu dan Bolot yang masih kelihatan benar sisa-sisa kantuk di matanya. Dari jauh meraka melambaikan tangan, sembari tersenyum memamerkan mentega di sela-sela gigi kuningnya.
”Halo Bro,” Subali menabik, matanya lekat memandang cangkir kopi di mejaku, dan tanpa ba bi bu langsung menyeruputnya dalam-dalam. Lalu tangan-tangannya sigap meraih toples rokok eceran yang sedari tadi menggoda untuk dipungut. Sampoerna hijau, langsung melekat di bibir hitamnya. Sedetik kemudian asap telah mengepul di warung sederhana itu. Sementara Tahu dan Bolot langsung nyamperi meja Mbak Ul, memesan kopi plus gula dan air mendidih secukupnya. Rupanya mereka sudah hapal benar tabiat, dan gaya bercanda Mbak Ul.
* * *
Lama, kami berempat hanya tepekur dalam pikiran masing-masing, sambil sesekali bersiul-siul untuk gadis-gadis sekolahan yang tampak malu-malu dalam seragam sekolahnya. Tdak sampai dua ratus meter ke arah timur dari warung Mbak Ul memang ada SMA yang cukup besar. Siswa-siswinya barangkali ada ribuan. Bagi lajang-lajang kolotan seperti kami, menyaksikan lalu lalangnya siswi yang terlihat segar, mungkin karena baru habis mandi; rambutnya basah dan mukanya meruapkan aroma sabun juga parfumnya masih tercium tajam, barangkali bisa menjadi pemandangan pagi yang cukup menarik untuk mengawali hari yang penuh hiruk pikuk persoalan.
“Piye IPNU-ne, Hu” Subali membuka percakapan.
Yang ditanya sedikit gelagapan. Cangkir yang sudah menempel di bibirnya ditarohnya lagi di meja. Dahinya nampak berkerut-kerut, mencoba secepat kilat memproses pertanyaan yang mengejutkan tersebut, dan mencari simpul jawaban yang cukup sederhana untuk disampaikan pada Subali, yang terhitung masih seniornya dalam organisasi itu. Sementara Bolot cengar-cengir melihat temannya bingung. Saya paham benar apa yang sedang dialami Tahu saat itu. Sebagai seorang ketua IPNU yang baru terpilih, memang Tahu tidak boleh gegabah dalam melontar steatmen, meskipun itu kepada orang dalam, setelah dilantik beberapa malam yang lalu, dia memiliki semacam tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik organisasi.
“Apik, Li,”
“Lancar-lancar wae, Li” bolot menimpali.
Subali manggut-manggut, tapi ada semacam keraguan tersirat dari tatapan matanya yang penuh selidik. “Memang harus gitu. Kalo bukan kita-kita, para pemuda NU, yang menghidupi organisasi, lalu siapa lagi. Intinya jangan mengandalkan orang lain di luar kita.”
“Terus, katanya ada gangguan kecil waktu pelantikan itu, gimana? Beres?”
“wah, hare gini. Memangnya selama ini sampean kemana saja sih, kok baru nannya soal itu. Sudah beres semuanya,” sela Bolot berbangga, sembari menyibak rambut kribo nidjinya ke belakang. Saya selalu salut pada sikap optimisme Bolot yang meluap-luap. Rasa-rasanya tak ada masalah yang bisa membuat pemuda ini menyimpan giginya; bermuramdurja.
“kita semua mengakui, bahwa gangguan tersebut memang kesalahan kita sendiri, Li. Kesalahan kolektif yang menuntut perbaikan kolektif juga. Dan, untunglah teman-teman kita bukanlah orang-orang yang terlalu bebal untuk diajak berintrospeksi; mereka bervisi ke depan dan pantang melihat ke belakang, kecuali dari kaca sepion saat berkendara di jalan jombang. Karena itu penting, Li, biar tidak terjadi kecelakaan.”
“Baguslah, kalo begitu. Tapi, bagaimana dengan imbas sosio-kulturalnya? Sebab aku yakin seribu persen kalo masalah yang sesungguhnya justru muncul dari orang-orang yang secara tidak langsung memiliki keterikatan emosional dengan organisasi. Tokoh masyarakat, misalnya. Atau malah masyarakat itu sendiri?” tambah Subali, terus mengejar.
“Hal itu juga sudah kami pikirkan mateng-mateng, Li. Itu sebabnya tadi aku bersyukur, karena teman-teman kita bukan orang-orang yang terlampau egosentris, untuk mempertahankan sikap jumawanya, dan mengabaikan kemaslahatan bersama. Gangguan insidental itu sepontan telah menyadarkan kami untuk segera bertindak.
“ Karena, meski hal itu bukan sebuah kesengajaan, namun secara tidak langsung kami telah melukai perasaan masyarakat. Dan, kami melihat, tidak ada cara lain kecuali menebus luka itu dengan mengakuinya sebagai kesalahan kolektif kami dan sebuah permintaan maaf yang tulus, seraya berjanji untuk dengan sekuat tenaga menjaganya agar tidak terualang kembali di masa mendatang.
“itu adalah upaya final kami dalam tataran ihtiyari. Setelah itu semuanya kami serahkan pada kebijaksanaan mereka. Namun, saya yakin bapak-bapak kita bukanlah orang-orang intoleransi alias kolot, yang melihat segala hal dengan kaca mata hitam putih. Saya yakin mereka cukup arif untuk bisa memisahkan tinja dari sarung, dan tidak menyingkirkan keduanya sekaligus“ Ujar Tahu, panjang lebar
“Dan, sampean sendiri dimana waktu itu, sampai-sampai ketinggalan informasi?” Sekarang ganti Bolot yang menyerang Subali.
“Aku... eh Aku di Surabaya. Nyari kerjaan.” Subali mulai kelihatan kikuk.
“Wah, rugi besar, sampean ndak ikut acara pelantikan itu,” kata saya.
“ Sayang banget Sampean ketinggalan melihat aksi cewek2 bohai malem itu,” Bolot menimpali.
“Mangkanya, sampean sudah tua tapi ndak laku-laku, Li” Mbak Ul tiba-tiba nyeletuk dari belakang mejanya.
Sontak kami berempat tertawa bersama-sama. Saking keasikan ngobrol sampai tak terasa suasana di sekitar telah cukup lengang. Tak tampak lagi siswa siswi yang berlalu lalang. Bel sekolahan telah meraung-raung sejak tadi. Saya sempat melirik jam yang tertempel di belandar tepat di atas meja Mbak Ul. Saya rasa inilah waktu yang tepat untuk mengakhiri obrolan ini. Dan kami pun pulang ke rumah masing-masing, tentu dengan sebuah azam untuk kembali lagi nanti sore atau esok pagi ke tempat ini. Di warung Mbak Ul yang bersahaja ini.
Belum selesai dengan kunyahan-kunyahan bakwan tersebut, Mbak Ul dengan ringan mendatangi bangku saya dan meletakkan gelas berisi hampir setengah serbuk kopi bubuk tepat di hidung saya. “Kopi!” katanya, sambil berlalu kembali ke belakang mejanya seperti tanpa persoalan apapun. Saya hampir tersedak melihat hal itu, kalau saja saya tidak cukup paham dengan kebiasaan wanita yang gemar bercanda ini. Segera saya kembalikan gelas tersebut dan merayunya untuk berkenan menambahkan sesendok gula, lalu menyeduhnya dengan air mendidih. Rupanya pagi ini saya memang tidak salah memilih tempat. Jadi lupa saya dengan sedikit persoalan yang sampai pagi tadi masih menggelayutkan gundah di pikiran saya.
“Subali, kok belum datang, Mbak?” saya sedikit berbasa-basi sambil menyeruput kopi selir yang sedap itu.
“Tunggu barang dua menit lagi juga datang!” katanya kurang antusias.
Dan rasanya belum terkatup mulut Mbak Ul, yang kami bicarakan sudah Nampak batang lehernya. Berjalan dengan santainya dalam balutan kemeja kotak-kotak yang itu-itu saja semenjak kami pertama kali berkenalan, juga di warung ini, dua tahun silam, celananya cutbray yang telah dimodifikasi menjadi pencil. Orang yang saya tunggu itu adalah lelaki yang sangat santun, meskipun kadang sulit mengendalikan lidah kepelesetnya, wajahnya komedi, dan model rambutnya akan mengingatkan kita semua pada aktor India di tahun pertama milenium ini. Tapi lebih dari itu dia memiliki tingkat intelektualitas di atas rata-rata kami. Mengekor di belakangnya, Tahu dan Bolot yang masih kelihatan benar sisa-sisa kantuk di matanya. Dari jauh meraka melambaikan tangan, sembari tersenyum memamerkan mentega di sela-sela gigi kuningnya.
”Halo Bro,” Subali menabik, matanya lekat memandang cangkir kopi di mejaku, dan tanpa ba bi bu langsung menyeruputnya dalam-dalam. Lalu tangan-tangannya sigap meraih toples rokok eceran yang sedari tadi menggoda untuk dipungut. Sampoerna hijau, langsung melekat di bibir hitamnya. Sedetik kemudian asap telah mengepul di warung sederhana itu. Sementara Tahu dan Bolot langsung nyamperi meja Mbak Ul, memesan kopi plus gula dan air mendidih secukupnya. Rupanya mereka sudah hapal benar tabiat, dan gaya bercanda Mbak Ul.
* * *
Lama, kami berempat hanya tepekur dalam pikiran masing-masing, sambil sesekali bersiul-siul untuk gadis-gadis sekolahan yang tampak malu-malu dalam seragam sekolahnya. Tdak sampai dua ratus meter ke arah timur dari warung Mbak Ul memang ada SMA yang cukup besar. Siswa-siswinya barangkali ada ribuan. Bagi lajang-lajang kolotan seperti kami, menyaksikan lalu lalangnya siswi yang terlihat segar, mungkin karena baru habis mandi; rambutnya basah dan mukanya meruapkan aroma sabun juga parfumnya masih tercium tajam, barangkali bisa menjadi pemandangan pagi yang cukup menarik untuk mengawali hari yang penuh hiruk pikuk persoalan.
“Piye IPNU-ne, Hu” Subali membuka percakapan.
Yang ditanya sedikit gelagapan. Cangkir yang sudah menempel di bibirnya ditarohnya lagi di meja. Dahinya nampak berkerut-kerut, mencoba secepat kilat memproses pertanyaan yang mengejutkan tersebut, dan mencari simpul jawaban yang cukup sederhana untuk disampaikan pada Subali, yang terhitung masih seniornya dalam organisasi itu. Sementara Bolot cengar-cengir melihat temannya bingung. Saya paham benar apa yang sedang dialami Tahu saat itu. Sebagai seorang ketua IPNU yang baru terpilih, memang Tahu tidak boleh gegabah dalam melontar steatmen, meskipun itu kepada orang dalam, setelah dilantik beberapa malam yang lalu, dia memiliki semacam tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik organisasi.
“Apik, Li,”
“Lancar-lancar wae, Li” bolot menimpali.
Subali manggut-manggut, tapi ada semacam keraguan tersirat dari tatapan matanya yang penuh selidik. “Memang harus gitu. Kalo bukan kita-kita, para pemuda NU, yang menghidupi organisasi, lalu siapa lagi. Intinya jangan mengandalkan orang lain di luar kita.”
“Terus, katanya ada gangguan kecil waktu pelantikan itu, gimana? Beres?”
“wah, hare gini. Memangnya selama ini sampean kemana saja sih, kok baru nannya soal itu. Sudah beres semuanya,” sela Bolot berbangga, sembari menyibak rambut kribo nidjinya ke belakang. Saya selalu salut pada sikap optimisme Bolot yang meluap-luap. Rasa-rasanya tak ada masalah yang bisa membuat pemuda ini menyimpan giginya; bermuramdurja.
“kita semua mengakui, bahwa gangguan tersebut memang kesalahan kita sendiri, Li. Kesalahan kolektif yang menuntut perbaikan kolektif juga. Dan, untunglah teman-teman kita bukanlah orang-orang yang terlalu bebal untuk diajak berintrospeksi; mereka bervisi ke depan dan pantang melihat ke belakang, kecuali dari kaca sepion saat berkendara di jalan jombang. Karena itu penting, Li, biar tidak terjadi kecelakaan.”
“Baguslah, kalo begitu. Tapi, bagaimana dengan imbas sosio-kulturalnya? Sebab aku yakin seribu persen kalo masalah yang sesungguhnya justru muncul dari orang-orang yang secara tidak langsung memiliki keterikatan emosional dengan organisasi. Tokoh masyarakat, misalnya. Atau malah masyarakat itu sendiri?” tambah Subali, terus mengejar.
“Hal itu juga sudah kami pikirkan mateng-mateng, Li. Itu sebabnya tadi aku bersyukur, karena teman-teman kita bukan orang-orang yang terlampau egosentris, untuk mempertahankan sikap jumawanya, dan mengabaikan kemaslahatan bersama. Gangguan insidental itu sepontan telah menyadarkan kami untuk segera bertindak.
“ Karena, meski hal itu bukan sebuah kesengajaan, namun secara tidak langsung kami telah melukai perasaan masyarakat. Dan, kami melihat, tidak ada cara lain kecuali menebus luka itu dengan mengakuinya sebagai kesalahan kolektif kami dan sebuah permintaan maaf yang tulus, seraya berjanji untuk dengan sekuat tenaga menjaganya agar tidak terualang kembali di masa mendatang.
“itu adalah upaya final kami dalam tataran ihtiyari. Setelah itu semuanya kami serahkan pada kebijaksanaan mereka. Namun, saya yakin bapak-bapak kita bukanlah orang-orang intoleransi alias kolot, yang melihat segala hal dengan kaca mata hitam putih. Saya yakin mereka cukup arif untuk bisa memisahkan tinja dari sarung, dan tidak menyingkirkan keduanya sekaligus“ Ujar Tahu, panjang lebar
“Dan, sampean sendiri dimana waktu itu, sampai-sampai ketinggalan informasi?” Sekarang ganti Bolot yang menyerang Subali.
“Aku... eh Aku di Surabaya. Nyari kerjaan.” Subali mulai kelihatan kikuk.
“Wah, rugi besar, sampean ndak ikut acara pelantikan itu,” kata saya.
“ Sayang banget Sampean ketinggalan melihat aksi cewek2 bohai malem itu,” Bolot menimpali.
“Mangkanya, sampean sudah tua tapi ndak laku-laku, Li” Mbak Ul tiba-tiba nyeletuk dari belakang mejanya.
Sontak kami berempat tertawa bersama-sama. Saking keasikan ngobrol sampai tak terasa suasana di sekitar telah cukup lengang. Tak tampak lagi siswa siswi yang berlalu lalang. Bel sekolahan telah meraung-raung sejak tadi. Saya sempat melirik jam yang tertempel di belandar tepat di atas meja Mbak Ul. Saya rasa inilah waktu yang tepat untuk mengakhiri obrolan ini. Dan kami pun pulang ke rumah masing-masing, tentu dengan sebuah azam untuk kembali lagi nanti sore atau esok pagi ke tempat ini. Di warung Mbak Ul yang bersahaja ini.
Langganan:
Postingan (Atom)